
TAPUNG, — Sejumlah siswa, remaja hingga balita di wilayah Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, dilaporkan mengalami keluhan kesehatan berupa mual, sakit perut hingga muntah. Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah sejumlah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut mendapatkan makanan dari dapur yang sama.
Salah seorang siswi Madrasah Aliyah (MA) di wilayah Tapung mengaku mengalami mual sejak Jumat (21/8/2026) hingga Minggu (23/8/2026). Keluhan tersebut muncul setelah dirinya mengonsumsi makanan MBG yang dibagikan di sekolah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Siswi tersebut mengaku sempat mengonsumsi somay yang menjadi salah satu menu MBG. Namun, hingga kini belum dapat dipastikan bahwa makanan tersebut merupakan penyebab keluhan kesehatan yang dialaminya.
Informasi yang dihimpun awak media juga menyebutkan adanya sejumlah siswa, remaja dan penerima MBG lainnya yang mengalami keluhan serupa. Bahkan, seorang balita bersama ibunya disebut mengalami keluhan kesehatan dan diduga memperoleh makanan dari sumber dapur MBG yang sama.
Saat awak media mendatangi sekolah pada Senin (24/08/2026), terlihat sejumlah siswa dan siswi keluar masuk sekolah dengan alasan meminta izin. Beberapa di antaranya disebut mengalami keluhan berupa mual, bahkan ada yang dilaporkan mengalami muntah.
Situasi tersebut membuat pihak sekolah melakukan pendataan terhadap siswa yang mengaku mengalami keluhan kesehatan.
Pihak sekolah menyampaikan bahwa mereka sedang mendata siswa yang mengalami mual maupun keluhan lainnya. Sekolah juga melakukan koordinasi dengan sejumlah klinik tempat siswa mendapatkan pemeriksaan kesehatan.
Langkah pendataan tersebut dilakukan untuk mengetahui jumlah siswa yang mengalami keluhan sekaligus memastikan kondisi kesehatan masing-masing siswa.
Pihak sekolah juga belum menyimpulkan bahwa keluhan tersebut disebabkan oleh makanan MBG. Sekolah masih melakukan koordinasi dengan pihak kesehatan dan mengumpulkan informasi mengenai kondisi para siswa.
Sementara itu, berdasarkan keterangan yang diperoleh dari pihak dokter di klinik tempat pasien menjalani pemeriksaan, kondisi pasien belum dapat langsung dinyatakan sebagai akibat keracunan makanan.
Dokter masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab keluhan kesehatan yang dialami pasien. Kepastian mengenai dugaan keracunan maupun kemungkinan keterkaitannya dengan makanan MBG baru dapat diketahui berdasarkan pemeriksaan medis dan, apabila diperlukan, pemeriksaan laboratorium.
Dengan demikian, dugaan keracunan makanan dalam kasus ini masih sebatas dugaan berdasarkan keluhan kesehatan yang dialami sejumlah orang dan belum merupakan diagnosis medis resmi.
Salah satu orang tua siswa mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya. Pihak keluarga berencana mendatangi sekolah untuk menyampaikan kondisi yang dialami anak mereka.
Bahkan, keluarga mempertimbangkan untuk membuat pernyataan agar anaknya untuk sementara tidak menerima makanan MBG sampai terdapat kejelasan mengenai kondisi kesehatan dan keamanan makanan yang diberikan.
“Kami akan datang ke sekolah dan menyampaikan kondisi anak kami. Kalau memang diperlukan, kami juga siap membuat pernyataan agar anak kami untuk sementara tidak diberikan MBG,” ujar orang tua siswa tersebut kepada awak media.
Munculnya laporan keluhan kesehatan dari sejumlah penerima MBG, terlebih adanya informasi bahwa beberapa penerima diduga memperoleh makanan dari dapur yang sama, perlu menjadi perhatian serius pihak terkait.
Penelusuran terhadap jumlah penerima yang mengalami keluhan, menu yang dikonsumsi, waktu konsumsi, proses pengolahan, distribusi hingga kondisi makanan dan sampel makanan apabila masih tersedia menjadi penting untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Pihak sekolah, pengelola dapur MBG, tenaga kesehatan serta instansi pemerintah terkait diharapkan dapat melakukan pemeriksaan secara objektif dan transparan.
Apabila hasil pemeriksaan nantinya menemukan adanya keterkaitan antara makanan dengan keluhan kesehatan para penerima, langkah penanganan dan evaluasi harus segera dilakukan guna mencegah kejadian serupa.
Namun demikian, seluruh pihak juga perlu mengedepankan prinsip kehati-hatian dan tidak terburu-buru menyimpulkan telah terjadi keracunan akibat makanan MBG sebelum adanya hasil pemeriksaan medis maupun laboratorium.
LensaPijar.id akan terus memantau perkembangan informasi ini dan memberikan ruang kepada pihak sekolah, pengelola MBG, tenaga kesehatan serta instansi pemerintah terkait untuk menyampaikan klarifikasi dan keterangan resmi.
LensaPijar.id — Fakta • Tajam • Terpercaya



