Diduga Limbah Dibuang Tanpa Sterilisasi Sesuai SOP dan Blower Bising, SPPG Kota Bangun di Kecam Warga

- Penulis

Minggu, 24 Mei 2026 - 08:06 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KAMPAR, – Warga RT 03 RW 01 Desa Kota Bangun mengeluhkan dugaan pencemaran lingkungan yang bersumber dari aktivitas dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Bangun.

Keluhan warga bukan tanpa alasan. Aroma menyengat yang diduga berasal dari kolam penampungan akhir limbah dapur disebut telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir dan semakin mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bau busuk yang tercium hampir setiap hari membuat warga merasa resah. Kondisi itu diperparah dengan meningkatnya populasi nyamuk di sekitar permukiman yang diduga berasal dari kolam limbah dapur tersebut.

“Sekarang nyamuk makin banyak. Bau limbah juga sangat menyengat, apalagi kalau siang dan malam hari,” ungkap salah seorang warga kepada tim Redaksi86.

Warga menduga kolam penampungan limbah yang berada di sisi dapur MBG tersebut menjadi sarang jentik nyamuk akibat pengelolaan limbah yang tidak maksimal.

Kekecewaan masyarakat semakin memuncak karena persoalan tersebut disebut sudah berlangsung cukup lama tanpa adanya penanganan serius dari pihak pengelola dapur SPPG Kota Bangun.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, warga sebelumnya telah menyampaikan keluhan tersebut kepada Ketua RT 03. Selanjutnya, Ketua RT dikabarkan sudah pernah mengingatkan langsung pihak mitra SPPG yang diketahui bernama Ilyas Pakpahan agar segera melakukan pembenahan terhadap sistem pengelolaan limbah dapur.

Namun hingga kini, warga menilai belum ada perubahan signifikan di lapangan.

Tak hanya persoalan limbah, warga lainnya bernama Paiman yang rumahnya berada tepat di belakang dapur MBG juga mengeluhkan suara bising yang berasal dari blower dapur.

Menurutnya, suara mesin blower tersebut sangat mengganggu aktivitas dan waktu istirahat keluarganya, terlebih orang tua di rumah tersebut sedang dalam kondisi sakit.

“Suara blower sangat keras, siang malam terdengar. Orang tua saya sedang sakit jadi sangat terganggu,” ujar Paiman.

Ironisnya, dugaan buruknya pengelolaan limbah itu semakin menguat setelah tim media menerima rekaman video yang memperlihatkan aktivitas pembuangan limbah dapur yang diduga tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Dalam video tersebut, terlihat sejumlah relawan bersama pihak mitra diduga sengaja membuang air limbah yang masih keruh dan bercampur lemak menggunakan ember langsung ke kolam penampungan akhir tanpa melalui proses sterilisasi ataupun pengolahan sebagaimana SOP IPAL yang semestinya diterapkan.

Sumber internal yang enggan disebutkan namanya juga mengungkapkan adanya dugaan penyumbatan pada sistem IPAL dapur SPPG Kota Bangun.

Akibat kondisi tersebut, limbah dapur disebut harus dikuras bahkan disedot menggunakan mesin sebelum akhirnya dibuang ke lokasi tertentu secara darurat.

Situasi ini memicu kekhawatiran masyarakat akan dampak lingkungan dan kesehatan apabila pengelolaan limbah terus dilakukan secara asal-asalan.

Warga mendesak pihak terkait, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Lingkungan Hidup, hingga Badan Gizi Nasional (BGN), agar segera turun tangan melakukan pemeriksaan langsung terhadap sistem pengelolaan limbah di dapur MBG SPPG Kota Bangun.

Masyarakat juga meminta adanya evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur tersebut, termasuk audit terhadap sistem IPAL dan dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

“Jangan sampai program yang seharusnya baik untuk masyarakat justru menimbulkan masalah baru bagi warga sekitar,” tegas salah seorang warga.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola SPPG Kota Bangun maupun mitra terkait belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga dan dugaan pelanggaran SOP pengelolaan limbah tersebut. Tim Media mengaku telah berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak SPPG maupun pihak mitra, namun tidak mendapatkan tanggapan. Sikap tertutup dan minimnya respons dari pihak terkait dinilai semakin memunculkan tanda tanya publik terhadap pengelolaan limbah dapur MBG tersebut.**

Laporan: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel lensapijar.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jumat Barokah : Sinergi Insan Pers Keadilan Terjalin,Warga Desa Kasikan Terima Bantuan Paket Sembako
Tiga Pelajar Diduga Diancam dengan Dodos Sawit, Polsek Tapung Hulu Terbitkan SP2HP
Masyarakat Desa Kasikan dan Talang Danto Menuntut PTPN IV REGIONAL III Plasma 20 % Dari HGU
Atensi Kapolsek Tapung Hulu, Tiga Pelajar Jadi Korban Pengancaman Oleh DIKA Di dusun 02 Harapan Jaya Dilaporkan
RUU Migas dan Masa Depan Kedaulatan Energi Indonesia PEKANBARU
Sejumlah Siswa, Remaja dan Balita Diduga Alami Gejala Keracunan, Penerima MBG Disebut dari Dapur yang Sama
10 Warga Raih Doorprize Umrah, Agrinas Palma Nusantara Tunjukkan Bukti Nyata Kepedulian kepada Masyarakat
Semarak HUT RI ke-81, PAC PDI Perjuangan Pekanbaru Adu Strategi di Lomba Domino
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 17:53 WIB

Jumat Barokah : Sinergi Insan Pers Keadilan Terjalin,Warga Desa Kasikan Terima Bantuan Paket Sembako

Jumat, 4 September 2026 - 17:43 WIB

Tiga Pelajar Diduga Diancam dengan Dodos Sawit, Polsek Tapung Hulu Terbitkan SP2HP

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:46 WIB

Masyarakat Desa Kasikan dan Talang Danto Menuntut PTPN IV REGIONAL III Plasma 20 % Dari HGU

Senin, 24 Agustus 2026 - 11:44 WIB

Atensi Kapolsek Tapung Hulu, Tiga Pelajar Jadi Korban Pengancaman Oleh DIKA Di dusun 02 Harapan Jaya Dilaporkan

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:28 WIB

RUU Migas dan Masa Depan Kedaulatan Energi Indonesia PEKANBARU

Berita Terbaru